Untuk info promo media hubungi OPA di 08161161874 atau email ke: andre.sumual@gmail.com

Jumat, Desember 19, 2008

Hijau Rumahku Hijau Bumiku


Oleh: Saiful Rizal (dari milis Mediacare)

Indonesia memecahkan rekor dunia. Tidak tanggung-tanggung, rekor yang tercatat di Gunness Book Of Record tahun 2008 tersebut, menyebutkan bahwa Indonesia di nobatkan sebagai negara perusak hutan nomor satu di dunia.

Perusakan hutan di Indonesia yang dilakukan dalam kurun waktu lima tahun –sejak tahun 2000 hingga 2005– tersebut, telah menyebabkan hilangnya area hutan di Indonesia sebanyak 2 persen per tahun.


Perusakan hutan yang terjadi di Indonesia tersebut seluas 1,87 juta hektar hutan setiap tahunnya, sama dengan 51 kilometer persegi setiap hari, atau sama dengan luas tiga lapangan sepak bola setiap jamnya. Bisa dibayangkan, betapa rusaknya hutan di Indonesia bila setiap jam saja terjadi kerusakan seluas itu, bagaimana dengan kejadian yang telah berlangsung belasan tahun.

Kondisi hutan Indonesia memang sangat memprihatinkan. Hanya demi kepentingan segelintir kelompok orang, akhirnya seluruh penduduk Indonesia harus menanggung akibatnya.

Guna menggugah kepedulian masyarakat Indonesia akan pentingnya menjaga dan memelihara kelestarian hutan di bumi pertiwi ini, Yayasan Peduli Hutan Lestari (YPHL), sebagai salah satu LSM di Indonesia yang peduli dengan pelestarian hutan di Indonesia, mengadakan suatu acara yang bertajuk "Indonesian Earthfest 2008".

Kegiatan yang diadakan di Area Hall Basket Senayan, Jakarta pada hari Minggu (14/12) yang lalu dapat dikatakan sukses. Ratusan orang dari berbagai penjuru kota di Indonesia, yang memiliki latar belakang berbeda; lintas profesi, gender, usia, dan agama, hadir pada acara tersebut. Bukan hanya masyarakat umum yang hadir, tetapi juga para selebritis, hingga pejabat negara ikut memeriahkan perhelatan akbar tersebut.

Menggugah kepedulian setiap orang untuk peduli terhadap masa depan hutan di Indonesia, bukanlah perkara yang mudah. Namun, bila semua pihak mau berbuat sesuatu demi kepentingan bersama, seperti yang dilakukan oleh YPHL, maka kerusakan hutan yang lebih parah dapat di cegah, atau setidaknya diminimalisasi.

Kerusakan memiliki dampak negatif yang cukup luas bagi masyarakat Indonesia, dan dunia pada umumnya. Dampak yang diakibatkan tersebut, antara lain bencana banjir, tanah longsor, sulitnya mendapatkan air bersih, dan lain sebagainya.

Rusaknya hutan di muka bumi ini, juga menjadi penyebab terjadinya pemanasan global (global warming). Pemanasan global yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, disebabkan meningkatnya jumlah “gas rumah kaca”, yaitu gas yang berfungsi menahan panas Matahari agar tidak dilepas kembali seluruhnya ke angkasa, sehingga bumi tetap hangat.

Gas rumah kaca yang berada dilapisan atmosfer bumi, jenisnya sangat beragam, yang antara lain; karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitro oksida (N20), hidrufluorokarbon (HFC), perfluorokarbon (PFC) dan sulfurheksafluorida (SF6). Berbagai jenis gas kimia tersebut diakibatkan oleh pembakaran bahan bakar yang berasal dari fosil (minyak bumi/batu bara), penggundulan & kebakaran hutan, serta penggunaan pupuk kimia secara berlebih.

Kerusakan hutan di Indonesia sudah sangat memprihatinkan, padahal Indonesia sangat berpotensi mengurangi suhu bumi secara global, rata-rata sebesar 0,4 derajat celsius. Syaratnya adalah dengan melakukan kegiatan penghutanan kembali (reforestasi) wilayah hutan di Indonesia.

Ahli Meteorologi dan Perubahan Iklim Institut Teknologi Bandung (ITB), Armi Susandi, mengatakan bahwa bila di asumsikan sampai dengan tahun 2110 Indonesia berhasil melakukan reforestasi seluas 75,95 juta hektare. Hutan di Indonesia akan berhasil menyerap volume karbon sejumlah 58,1 giga ton dari total emisi karbon saat itu yang diperkirakan mencapai 156,86 giga ton. Angka yang sangat fantastis.

Mengutip sebuah pepatah cina, “Jika kamu berpikir untuk satu tahun ke depan, semailah sebiji benih. Dan jika kamu berpikir untuk sepuluh tahun ke depan, tanamlah sebatang pohon.” Pepatah bijak tersebut, tentulah sangat sesuai dengan ide reforestasi diatas.

“Mulai dari diri sendiri, mulailah dari yang kecil, dan mulai dari sekarang.” Ungkapan bijak diatas, bisa kita terapkan dalam upaya membantu penyelamatan lingkungan. Syaratnya, kita harus memiliki kemauan untuk membantu menyelamatkan bumi ini dari kerusakan yang semakin parah.

Satu contoh kontribusi kecil namun memiliki manfaat sangat besar bagi lingkungan hidup disekitar Kita, adalah cukup dengan menanam sebatang pohon di halaman rumah, maupun lingkungan tempat tinggal Kita. Dengan melakukan penanaman pohon, maka sebenarnya kita telah membantu menghambat terjadinya pamanasan global di bumi ini. Perlu diketahui, bahwa pohon adalah pelahap karbondioksida (CO2) yang rakus, karena sebatang pohon mampu menyerap 6 kg CO2/tahun.

Kepedulian masyarakat terhadap lingkungan memang harus ditumbuhkan. Karena, dengan kepedulian dari masyarakat –serta dukungan dari pemerintah– terhadap lingkungan, maka ancaman global warming bisa diminimalisir.

Tanaman yang Kita tanam di halaman rumah, bukan hanya menambah sedap pemandangan dan menambah elok tampilan rumah Kita, tetapi juga dapat membersihkan udara yang kita hirup. Partikel debu, CO, dan polutan-polutan lain akan diserap oleh tanaman sehingga kita bisa menghirup udara yang lebih baik dan berkualitas.

Bukankah sangat tidak nyaman tinggal di kawasan yang tercemar polusi?. Bukankah sangat tidak nyaman, bila kita kekurangan pasokan air bersih?. Bukankah kita tidak ingin tinggal di kawasan langganan banjir, saat musim hujan tiba?.

Kita ingin ingin hidup nyaman di bumi ini?, Kita ingin generasi mendatang menikmati udara bumi yang segar dan bebas polusi?, maka berbuatlah sesuatu. (Saiful Rizal: sariz_sobat@yahoo.com)

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More